Dina Listiorini on Wordpress

Para mis estudiantes

Go..go..AJR go!!! October 13, 2008

Filed under: Mahasiswa-ku — belladina @ 12:04 am

Wahhh…senangnya aku!! Ini pertama kalinya aku berhasil mengegolkan mahasiswa yang aktif di Atma Jaya Radio, alias AJR untuk ikut berpartisipasi dalam forum internasional. Kalau tidak ada aral melintang, Widya AJR produser Duper, alias Dunia Perempuan, salah satu program di AJR akan menjadi salah satu pembicara. Ia akan berbicara di hari ke 2, 18 Oktober di forum Training of Trainers Community Radio dalam jaringan AMARC se Asia Pasifik. Widya akan berbicara mengenai isu-isu kemiskinan dan tantangan untuk membicarakannya melalui radio komunitas. Ini Jadwal Bu Dina, Pak Anton Birowo dan Widya.

Sebetulnya ToT diselenggarakan selama 4 hari. Pada dua hari pertama, topiknya tentang bagaimana peran radio komunitas dalam mengurangi kemiskinan. Di hari ke 3 dan ke 4, topiknya tentang peran radio komunitas dalam manajemen bencana. Pada topik ini hanya Bu Dina sebagai pembicara dan tetap mewakili Atma Jaya Radio. Sebagai salah satu voting member salah satu bentuk keanggotaan radio komunitas dalam jaringan AMARC, memang AJR dipertimbangkan untuk menjadi pembicara. Beruntungnya lagi, aku diminta menjadi SC yang memang salah satu tugasnya menentukan topik dan pembicara.

Widya, good luck ya!!

Nanti akan diposting lagi berita terbarunya. Sementara ini dulu.

 

Wajah “Babu”? October 2, 2008

Filed under: My Journeys — belladina @ 9:15 am

 

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mendiskreditkan rekan-rekan women migrant worker alias TKW atau tenaga kerja wanita yang kisahnya mengharu biru di luar negeri nun jauh si sana. Tulisan ini justru muncul karena kekesalan, kejengkelan dan sedikit “dendam” sebagai perempuan yang distigma dengan sebuah identitas, justru hanya karena beridentitas sebagai perempuan!!

Februari 2008, Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta

   

Aku dan Indana (menggendong Farrel) bersemangat berangkat untuk pelatihan Gender, Sexuality and Reproductive Right di Gurgaon, near Delhi, India

Februari 2008, Bandara Changi : Perjalanan ke India

 

“Where is the gate F 48?” tanyaku pada seorang petugas di belakang desk informasi di bandara Changi saat itu. Dengan ramah, petugas itu menjelaskan dalam bahasa Inggris bahwa kami (aku dan Indana) bisa mengikuti petunjuk arah yang tersedia. Namun ia juga memberikan arahan langsung dan menanyakan tujuan kami. Wajahnya sedikit khawatir ketika kami memberitahukan tujuan dan nomer pesawat kami. Katanya, “Mam, both of  you might be in a hurry. SQ no 915 now in the last call, and you only have 10 minutes left. But be careful, dont be panic, ok?” Petugas itu pun mengatakan bahwa kami tidak perlu khawatr bla tersesat, karena kami akan menjumpai desk informasi di arah tujuan kami. Ia pun menegaskan bahwa kami bisa bertanya apapun dan “all information you needed you can get here with free. No worries, mam!” Tapi saya terus terang tidak memperhatikan apa yang dia katakan. Pikiran kami berdua waktu itu hanya tertuju pada kalimat sebelumnya bahwa waktu kami sangat sempit. OMG!! padahal kami berdua baru saja turun dari pesawat dan mencari pesawat untuk penerbangan berikutnya ke Delhi. Kami segera berlari mengikuti arah yang ditunjukkan dan …ya ampuuunnn…gate F 48 jauhnya minta ampuuuunnnn!!! Maaaakkk!!! itu gate yang terakhir dari gate F!!

 

  

Di Bandara International Delhi, menunggu jemputan. Masih semangat.

Februari 2008, Bandara Changi : Pulang ke Indonesia

 

Capeknya minta ampuuun! Itu yang kami rasakan ketika transit di Changi dalam perjalanan pulang ke Indonesia. Memang, kami berdua beruntung bisa naik SQ atawa Singapore Airlines roundtrip Jakarta- Delhi. Belum lagi ketika kami pulang, di bandara Delhi kami sempat berselisih paham dengan petugas SQ ketika barang bawaan kami kelebihan total 14 kilo! (sebetulnya aku sih, yang ngomel dan ngajakin berantem..hehehe…itulah salah satu keuntungan kita kalo lancar bahasa Inggris, bisa ngeyel…). Rasa lelah semakin menjadi ketika pesawat sempat turbulance beberapa menit. Pusing, booo!!!

 

Tapi kami juga sadar, tidak ada jaminan bahwa seseorang tidak distigma TKW sekalipun pesawatnya mentereng seperti SQ

 

  

Indana (kiri) dan aku. Dari dua wajah “pembokat” yang mejeng ini, mungkin dari sinilah semuanya bermula…

Februari 2008, Bandara Sukarno Hatta

 

Selepas antrian yang panjang di imigrasi, kami bergegas mengambil bagasi dan kemudian keluar. Menuju arah pintu keluar seorang petugas mengatakan, ” Mbak ke sana dulu, nggak bisa langsung keluar. Tak lama seorang petugas bandara “menggiring” kami ke sebuh tempat. Kami dihadapkan pada seorang petugas perempuan yang di depannya terletak sebuah buku besar. Paspor kami berdua pun diminta untuk “diperiksa”. Kami agak kebingungan, menghadapi seorang bapak petugas, dan dua orang perempuan yang berada di belakang meja dengan buku besar itu.

 

“Kalian dari kabupaten mana? Pendidikan terakhir apa? Tolong data-data itu diisi di buku ini”, demikian kata salah seorang perempuan yang berada di belakang meja. Aku dan Indana berpandangan. Aku melihat ke bapak petugas dan mengatakan kepadanya, “Bapak mungkin salah, coba lihat dulu di kertas itu pekerjaan saya. Saya bukan TKW”. Si Bapak tidak berkomentar, malah menggiring Indana — temanku yang bekerja sebagai Direktur UNFPA untuk Yogyakarta (dia sekarang kuminta mengajar mata kuliah Pemasaran Sosial) — untuk mencatatkan nama dan tingkat pendidikannya.

 

Kami berdua merasa tersinggung dan merasa “being trapped” saat itu. Kami seolah dipaksa mengakui identitas yang bukan milik kami. Dengan nada tinggi Indana berkata “Pendidikan saya master, S2. Saya mengambil jurusan Kesehatan Masyarakat di UGM!” Lucunya, si mbak yang berada di balik meja merasa tersinggung dan berkata “sombong sekali kamu”. Dikomentari demikian Indana semakin meradang, ia pun melanjutkan ” Saya memang harus sombong untuk menghadapi orang-orang macam kalian yang nggak tahu diri, yang menjebak kami ke sini, dan saya yakin kalian akan memeras kami!” Tidak kalah galaknya dengan Indana, saya tarik paspor saya yang masih dipegang si Bapak dengan mengatakan, “Kembalikan paspor saya, atau saya laporkan dan saya tuntut dengan tuduhan pemerasan, dan perbuatan tidak menyenangkan. Jangan kira saya tidak bisa menghubungi pengacara saya dari sini.”

 

Sepertinya mereka ketakutan. Pasporku dan Indana pun dikembalikan. Kami masih gemetar karena marah. Kami semakin sebal ketika kami melihat seorang perempuan, kembali dihampiri oleh si bapak dan si mbak yang tadinya berada di depan meja. Mereka berbincang-bincang dan kami melihat si perempuan memberikan beberapa lembar uang. “Mafia bandara”, kata Indana. Aku mengangguk, tapi tak mampu berbuat apapun. Ironis rasanya, ketika di bagian imigrasi kami melihat slogan besar terpampang “Selamat Datang Para Pahlawan Devisa”….

 

Berbeda Pendapat itu Menyenangkan!

Filed under: Namaku Dina Listiorini — belladina @ 12:55 am

 

Waah, ternyata artikel “Ndesonya Mahasiswaku di Ruang Kelas” mendapat cukup banyak komentar. Macem-macem, isinya. Ada yang setuju, ada yang tidak, dengan beragam argumentasi. Itu hal yang bagus. Aku sendiri menikmati semua komentar. Dari yang masih kuliah ataupun yang sudah bekerja, semuanya memberikan pernyataan yang berbeda-beda. Namun aku melihat bahwa pada dasarnya sebagian komentator menyayangkan artikel itu seolah-olah menyamaratakan semua mahasiswa. Seolah-olah semua mahasiswa yang mengambil kuliahku “ndesit” semua.

 

Sebetulnya sih tidak begitu.  Tidak semua mahasiswaku “ndesit” seperti di cerita itu. Tapi ya kalau boleh jujur, hal itu terjadi bertahun-tahun selama aku mengajar. Segala macam cara sudah diupayakan, tapi ya….susye! MIsalnya ketika membuat tugas, aku ngga ngerti, kenapa mahasiswa seolah “alergi” membaca buku berbahasa Inggris. Seolah itu menjadi momok, seolah bacaan itu menghambat mereka. Padahal masa depan mereka bisa jadi tergantung dengan kepandaian mereka berbahasa Inggris. Toh sebenarnya bahasa Inggris bukan bahasa “asing”, artinya bahasa itu sudah menjadi bahasa internasional yang relatif memudahkan kita berbicara dimanapun kita berada.  

 

Aku jadi teringat saat mahasiswa bertanya, “apa tugasnya harus diketik, Bu?” O, my God!!! Pertanyaan macam apa itu? Disaat selasar lantai 1 dipenuhi mahasiswa yang membuka laptop memanfaatkan hotspot, saat lab komputer nyaris tak pernah sepi karena mahasiswa bebas menggunakannya untuk berbagai tujuan…. mana gratisan lagi!! Kadang aku ngga ngerti cara berpikir mahasiswa jaman sekarang, di era milenium ini. Seringkali aku membandingkan dengan diriku sendiri, saat komputer dan internet masih menjadi barang yang sangat asing. Belum ada Windows, Linux pun belum ketemu…bahkan mungkin penemunya masih duduk di bangku SD atau SMP…. Jadi, bila harus memberikan judul pada sampul depan tugas, aku dan teman-temanku harus membeli “RUGOS”, semacam stiker huruf dengan ukuran tertentu. Bayangkan saja bila judul tugas sangat panjang…bisa pegel nii, tanganku….

 

Aku tidak bermaksud sok membandingkan masa lalu dengan masa sekarang, Tapi aku berpikir, dengan kemudahan yang ada, mestinya semua tugas bisa dilakukan dengan lebih baik. Tinggal nge-print, disesuaikan ukuran, atau di scan…begitu mudahnya…Kalau pun ada kesulitan bahasa Inggris, bukankah ada Babelfish di Yahoo? Setahuku, sih…hampir semua mahasiswaku punya account di Yahoo.. jadi sebetulnya tidak ada masalah. Sehingga pertanyaan konyol itu pun mestinya tidak perlu terlontar.

 

Aku menemani Bu Ninik pendadaran S3-nya, 2007. Sebelah bu NInik, namanya mas Catur, teman kuliahku dulu di Unair, angkatan pertama Komunikasi Unair. Dia juga bersiap ujian S3.

 

Masih terkait dengan komentar mahasiswa atau mantan mahasiswa di tulisanku tentang “Ndesonya Mahasiswa di Ruang Kelas”, ada seorang mahasiswa yang bertanya, “Bu, ga sakit hati atau tersinggung? Kog ga bales komentar, sih?” Aku waktu itu bilang begini, “Jujur ya mbak, aku belum punya waktu buat berkomentar balik. Tapi apa ya perlu ku komentari? Biar sajalah…masalahnya kerjaanku banyak je…biarkan jadi wadah dimana orang bisa bebas berpendapat dan berkomentar. Ndak perlu sakit hati”. Sepertinya mahasiswaku belum puas, dia mencecar dengan pertanyaan lagi, “Lha kalo ibuk dimaki-maki dengan tidak sopan gimana, dong?” Kujawab lagi sambil nyengir, “Gampang banget, tinggal di buang aja. di spam, atau unapprove, beres”. Dia masih penasaran, katanya, “Buk, kayanya ibuk ini kaya peribahasa..anjing menggonggong kafilah berlalu yah….ga pedulian”. Aku jawab lagi dengan setengah mengantuk…karena memang saat itu jam 3 sore, habis mengajar…kesil tenin…”Mmmm..aku lihat dulu anjingnya..kalau bagus, aku bawa pulang dan aku pelihara. Atau aku jual lagi di Kuncen atau Ngasem. Tapi kalo anjingnya agak buduk dan berkutu..yah terpaksa kucuekin….” Sepertinya mahasiswaku kali ini sebal sekali dengan jawabanku yang terakhir ini, katanya kemudian. “Ya weslah, Buk…aku pamit dulu…dah ibuk!”

 

Jadi ya, sah-sah saja bila ada yang berkomentar, berpendapat..mumpung gratisan. Tapi sekali lagi kalau boleh jujur kenapa aku nggak pernah merespon balik semua komentar, selain aku sibuk dan kadang-kadang sok sibuk…aku masih bingung dan belum tahu caranya mereply komentar-komentar itu..hehehe…. Lha wong blog ini ada pun, aku diajari sama Anwar!! Siapa bilang aku tahu semua hal…?Makasih ya War!

 

Anggap saja ini jawaban untuk semuanya. Nggak bisa yah? Ya maaf…

 

India (bagian 2), Delhi: Keindahan yang Kontradiktif September 28, 2008

Filed under: My Journeys,Uncategorized — belladina @ 6:54 pm

Mari lihat foto-foto berikut :

  

Dan juga foto-foto berikut ini :

     

Seolah-olah kita dihadapkan dengan sebuah kota yang sangat indah, menakjubkan dan sangat menawan hati!

Tapi coba lihat pula pemandangan ini :

    

atau bahkan ini :

    

   Gambar kanan, thanks to Indana who captured this pic!

Jadi, ngerti kan, maksudku dengan kontradiksi itu???

 

Yudith berbagi cerita (2) September 19, 2008

Filed under: Mahasiswa-ku — belladina @ 12:02 am

Nama saya Marceline Yudith, mahasiswa fisip UAJY angkatan 2005 yang baru saja pulang dari student exchange program di Taiwan. Saya berasal dari keluarga yang memiliki latar belakang pendidikan yang kuat, sehingga sedari kecil saya diajarkan bahwa mendapat beasiswa di luar negri adalah sesuatu yang suatu hari nanti harus saya capai dengan usaha saya sendiri. Baik saya maupun kedua adik saya ditargetkan demikian.

 

Bagaimana ceritanya sehingga saya tiba-tiba bisa mendapat beasiswa selama satu semester di Taiwan? Yang paling berjasa atas diterimanya saya dalam exchange program tahun 2008 sebetulnya adalah WaDek I FISIP, Bpk.Agus Putranto. Beliaulah yang menunjuk saya secara langsung untuk mendaftar program ini (salah satu ketentuan mendaftar program ini adalah ditunjuk/dipilih langsung oleh WaDek I tiap fakultas). Setelah melalui beberapa tahap seleksi, saya dan Dewi Hong dari fakultas ekonomi terpilih menjadi wakil UAJY untuk menjalani studi di Taiwan. Saya berkesempatan untuk studi di Soochow University, Taipei City, sementara Dewi di Fu Jen Univeristy, Taipei County.

 

Awalnya saya sempat ragu apakah saya bisa memberikan performance yang baik di Taiwan, ada sedikit beban lebih karena disana tentu saja saya dipandang sebagai wakil Indonesia, bukan lagi hanya sekedar wakil UAJY. Sebetulnya bisa dibilang modal saya hanya sekedar bahasa Inggris yang memadai saja, ditambah pengetahuan budaya yang agak lumayan, termasuk menguasai tari Bali (padahal ya nggak tahu orang sana tertarik dengan budaya kita apa enggak, tapi ini merupakan salah satu syarat yang harus saya penuhi).

 

Ternyata kuliah di Taiwan tidak seberat yang saya bayangkan sebelumnya. Untuk beberapa kelas materi kuliahnya memang lebih banyak dibandingkan kuliah di FISIP UAJY, tapi atmosfir di kelas rata-rata cenderung lebih santai. Malah terkadang dosen menraktir seluruh kelas di café kampus sambil diskusi bersama. Disana saya memang sering sekali ditraktir, baik oleh dosen, teman atau orangtua teman, sampai berat badan saya naik 2 kg. Padahal selama di Indonesia saya nggak pernah bisa gemuk. Belum lagi makanan Taiwan memang kolesterolnya tinggi, karena diolah dengan minyak babi, bukan minyak sayur, karena harga sayur mahal.

 

Mengenai pelajaran di sekolah, ada beberapa hal yang bisa kita contek. Misalnya, satu hal yang saya kagumi adalah, pelajaran di kelas selalu disesuaikan dengan isu yang up to date. Misalnya di kelas Comparative Social Welfare, salah satu isu terhangat yang kami bahas adalah isu gender dan hak-hak sipilnya di Taiwan, serta isu Timebank. Sementara di kelas Current World Affairs, setiap murid wajib membuat satu artikel setiap minggu mengenai isu terbaru, kemudian dipresentasikan di kelas. Sistem semacam ini menurut saya baik untuk dicontoh karena mendorong mahasiswa untuk giat menulis dan membaca bahan kuliah tanpa banyak mengakibatkan stress.

 

Selama satu semester saya tinggal di Taiwan, banyak sekali hal menarik yang saya temukan dan alami disana, misalnya: fakta bahwa rata-rata porsi makan orang Taiwan barangkali nyaris dua kali porsi makan orang Indonesia (meski entah kenapa tetap saja orangnya kurus-kurus), daerah geografis Taipei yang mirip baskom (dikelilingi pegunungan sehingga cuacanya luar biasa jelek), besarnya fenomena kecenderungan anak muda Taiwan untuk menjadi bisexual, sampai pengalaman saya dikejar-kejar lesbian. Tapi dari berbagai macam pengalaman menarik selama tinggal di Taiwan, salah satu yang paling menarik adalah gender role disana. Kalau di Indonesia biasanya yang kita temukan adalah istri takut suami, di Taiwan malah kebalikannya: STI, alias suami takut istri. Ini adalah hal yang paling sering dan paling mudah ditemui di Taiwan. Kalau jalan-jalan ke Carrefour atau daerah pertokoan, maka akan sangat menarik bila kita mengamati pasangan-pasangan, baik suami-istri maupun yang pacaran, sewaktu mereka sedang berbelanja. Biasanya yang lelaki akan sibuk mendorong trolley belanjaan, kesana-kemari mengambilkan berbagai macam barang, dan bahkan membawakan tas tangan milik pasangannya. Sementara yang perempuan berjalan agak di depan, sambil mengecek daftar belanjaan dan memberi perintah si lelaki untuk mengambilkan barang-barang (dan biasanya sambil marah-marah karena si lelaki salah ambil barang).

 

Pada akhirnya, setelah bercerita agak panjang – lebar, yang ingin saya sampaikan adalah: Dunia di luar sana, entah dimanapun itu, menyimpan banyak sekali hal yang kita mungkin sama sekali tidak pernah duga sebelumnya. Banyak mahasiswa yang ingin merasakan bagaimana enaknya kuliah di luar negri namun terhalang masalah biaya atau nilai yang pas-pasan. Sebetulnya zaman sekarang sudah ada banyak sekali beasiswa, mulai dari exchange program, beasiswa full/partial untuk S1-S2-S3, sampai dana riset, student camp, student conference dan lain sebagainya. Semua itu tidak sulit untuk diperoleh asalkan memiliki bekal keyakinan, rasa percaya diri dan ketekunan. Yang terpenting sebetulnya, modal kemampuan berbahasa. Kan nggak lucu juga kalau misalnya, studi ke Taiwan tapi bahasa Inggris saja gagu, Mandarin apalagi, yang tulisannya saja dibacanya susah setengah mati. Kan nggak mungkin disana ngomong pakai bahasa isyarat atau bahasa tarzan.

 

Buat yang nggak pede untuk mendaftar beasiswa karena merasa IPKnya tidak terlalu tinggi, jangan khawatir. Mendaftar saja, mana tahu diterima. Banyak mahasiswa cerdas yang nilainya biasa saja, tapi banyak juga mahasiswa yang otaknya pas-pasan tapi IPKnya tinggi karena mereka lebih tekun (atau mungkin lebih mujur). IPK memang menjadi syarat yang penting, tapi bukan berarti kita harus mendapat IPK yang sangat tinggi untuk bisa mendapat beasiswa. Einstein dan Edison saja dulu dikeluarkan dari sekolah karena dianggap idiot. Menurut saya IPK dan biaya bukan syarat mutlak. Disamping itu banyak faktor lain yang juga dinilai, misalnya kemampuan menulis (biasanya untuk mendaftar beasiswa kita juga akan diminta menulis essay), latar belakang individu-kepribadian, pengetahuan budaya, dan lain sebagainya. Perlu dicatat juga, beberapa beasiswa mensyaratkan tes wawancara atau presentasi. Selain itu, ketekunan mengakses informasi juga penting. Hal lain yang tidak boleh dilupakan adalah mempersiapkan tes TOEFL, IELTS atau sertifikat ujian bahasa lainnya yang disyaratkan. Tapi yang paling sering digunakan biasanya TOEFL. TOEFL tidak sulit, jika memang tidak yakin bisa mendapat skor diatas standar (rata-rata beasiswa mensyaratkan skor antara 500-550), pusat bahasa menyediakan les TOEFL. Atau belajar sendiri menggunakan bukunya juga tidak masalah, buku TOEFL sekarang ini mudah ditemukan di toko-toko buku. Jika sudah punya sertifikat TOEFL, maka sewaktu-waktu tidak perlu gelagapan ketika akan mendaftarkan diri untuk beasiswa.

Saat ini UAJY juga menawarkan banyak beasiswa, bahkan di internet banyak situs yang menawarkan pendaftaran beasiswa secara online. Semua itu kembali lagi kepada diri kita sendiri, seberapa besar kemauan kita untuk mewujudkan mimpi kita. When there’s a will, there’s a way. Jia You! J

 

Cerita tentang Yudith (1)

Filed under: Mahasiswa-ku — belladina @ 12:02 am

Yudith ini sebenarnya sudah kukenal sejak kecil, kalau tidak salah pertama kali aku melihatnya saat piknik bersama keluarga besar Universitas Atma Jaya Yogyakarta di pantai Pangandaran. Aku mengenal ayah dan ibunya dengan baik, karena mereka sesama kolega di UAJY ini. Saat itu kalau tidak salah, Desember 1995 tahun pertamaku bekerja di universitas ini.

 

Sudah menjadi hal yang lumrah apabila piknik bersama keluarga besar UAJY, para karyawan dan dosen mengajak keluarga mereka pergi bersama. Demikian pula halnya dengan Yudith yang kala itu mungkin masih balita. Aku tidak ingat dengan pasti. Yang kuingat saat itu ayahnya, pak Maryatmo dosen FE, menggendongnya karena badannya demam dan agak rewel (sedikit-sedikit menangis) — dan yang agak menjengkelkan, tidak mau disentuh… kalau disentuh, tangisannya semakin keras…

 

Kedua kalinya aku bertemu Yudith dan ayah ibunya di Alfa, kalau tidak keliru sekitar awal tahun 2004. Kesanku waktu itu ia pendiam dengan wajah yang agak murung. Ibunya (bu Elly) dengan riang gembira seperti biasanya, bercerita bahwa Yudith yang kukenal di Pangandaran rewel dan tidak mau disentuh itu “Sudah besar, lho, Bu Dina, sekarang sudah SMA di Van Lith. Ini lagi libur, maunya belanja. Ayo, nak, salaman dulu sama Tante Dina”

 

………setelah itu, aku melupakannya……..maksudku, momen itu tak lebih dari perjumpaan biasa dengan kolega yang sedang berbelanja bersama keluarganya

 

Aku bertemu Yudith lagi saat ia menjadi mahasiswa baru dan mengambil kelasku di Pengantar Ilmu Komunikasi. Waktu itu seingatku ia diantar oleh ibunya. “Bu Dina, anakku disini lho! Titip ya, nek nakal dijewer wae”, sebuah pesan yang sangat lumrah dari seorang ibu.

 

Terus terang aku tidak ingat proses metamrfosanya Yudith yang waktu kecilnya kulihat sangat rewel, manja, suka menangis dan tidak mau disentuh…yang jelas aku melihat seorang gadis remaja yang ramping, nyaris kurus sebenarnya menggandeng tangan ibunya. Proses metamorfosa yang jelas kuingat adalah mahasiswaku yang bernama Desi, lengkapnya Desideria. Nah, si Desi ini putrinya ibu Murwani, dahulu kepala Tata Usaha FISIP (sekarang kepala BAU). Jelas aku mengingatnya, terutama masa kecilnya karena si Desi ini selalu diajak oleh ibunya di dalam setiap kegiatan FISIP. Agak kaget juga aku melihatnya setelah menjadi mahasiswa. Desi esta bonita, y exotica! Beda banget, bo, sama masa kecilnya dulu.

 

Kembali ke Yudith. Di kelas PIK, aku akhirnya tahu kalau dia anak yang cerdas, berwawasan. Argumennya logis, dan talkative. Hanya saja, yang terakhir ini sering tidak pada tempatnya. Tidak jarang dia ngobrol sendiri dengan teman di sampingnya, atau menoleh ke belakang dan cekikikan. Sekali nyaris kuusir, saat ia sibuk ngobrol dengan temannya, dan di saat yang sama, temannya yang lain sedang menjawab pertayaanku. Ku bilang saat itu, “Saya tidak peduli kamu pintar atau lebih pintar dari temanmu dan saya tidak peduli kamu anaknya siapa, yang jelas saat ini kamu di kelas saya. Saat ini temanmu sedang berbicara. Coba kamu belajar mendengar orang lain. Kalau kamu tetap ngoceh, mending keluar saja”.

 

…….setelah itu aku melupakannya…….sebuah cerita klasik tentang upaya mengajari mantan anak SMA untuk menghargai orang lain dan mendengarkan orang lain. Tentu saja, Yudith bukan satu-satunya.

 

Yudith mengambil beberapa mata kuliahku saat ia masih semester 4. Agak berubah, tidak lagi terlalu talkative dan lebih mengutamakan kemampuannya dalam mengolah diskusi. Mata kuliahku yang dipilihnya cukup berat, yakni Analisis Wacana. Menurutku, ia agak memaksakan diri, mengambil mata kuliah dengan bobot yang berat. Belum cukup umur! Tapi ia mampu melaluinya meski dengan beberapa catatan. Kehadirannya cenderung mengundang tawa dan agak berisik, karena bunyi nyaring lonceg-lonceng kecil di tasnya. Menandakan ia ada.

 

…….setelah itu, aku melupakannya…..urusan di Komisi Penyiaran Propinsi DIY dimana aku saat itu menjadi salah satu anggota cukup banyak menyita perhatianku

 

Tiba-tiba, di pertengahan 2008, aku di sms oleh Yudith, menanyakan alamat email. Nomer yang tercatat di hpku tidak kukenal dengan kombinasi angka yng aneh. Tapi aku tidak terlalu ambil pusing, dan segera kuberikan alamat emailku. Malamnya, melalui emailnya Yudith bercerita bahwa ia sedang di Taiwan mengambil sebuah program pendek. Aku jadi senang mendengarnya. Sangat senang, bahkan, dan ada kebanggaan, bahwa salah satu mahasiswaku, perempuan, mendapat beasiswa. Ia bertanya, apakah temannya, seorang lesbian boleh berkenalan dan menanyakan beberapa hal kepadaku. Aku mempersilakan saja. Bahkan kuminta Yudith untuk invite YM ku agar kami bisa ngobrol dengan lebih santai. Dan memang sejak itu kami sering ber-YM ria. Setiap mengakhiri pertemuan, aku selalu berkata, “Hasta Luego” dan dibalas dengan “Wan An”

 

……….setelah itu, aku menjadi lebih dekat secara personal dengan Yudith…… Kami sering berbagi cerita. Yudith sering mengungkapkan kekesalannya tentang salah satu teman perempuannya yang lesbian. Menurutnya, temannya itu terlalu berlebihan sikapnya. Namun ketika kuminta agar ia bersikap tegas, Yudith merasa ragu. Katanya, “Aku nggak enak, Bu. Nanti dikira kasar, dikira aku benci sama dia.” Kataku, “Nak, tolong tinggalkan rasa sungkan Jawamu itu. Ora payu, nduk, di Taiwan sana. Bersikap tegas nggak harus kasar seperti ditambah membanting pintu atau gelas. Kalau kamu mengiyakan setiap permintaannya…ya wajarlah kalau dia nempel terus. Cobalah belajar mengatakan TIDAK”. 

 

Keesokannya aku menemukan offline message dari Yudith, “Bu, aku berkata tidak padanya hari ini”.

 

Yudith sudah pulang. Tidak berubah banyak. Tetap datang dengan bunyi-bunyian yang berisik. Tetap kurus. Semester ini ia mengambil dua mata kuliahku. Bedanya, sekarang ia sudah punya blog. Kalian mesti baca.

 

……….aku tidak mungkin melupakannya……….Saat ini ia mengejar-ngejarku untuk program seminar.

 

India bagian 1 : Ruwet!! September 14, 2008

Filed under: My Journeys — belladina @ 3:44 pm

Mulanya aku tak percaya saat Sushma memberitahu kami semua agar bergegas naik ke mobil ke bandara setelah acara penutupan Films of Desire: Sexuality and the Cinematic Imagination yang diadakan selama 4 hari di Neemrana Fort, Rajastha, India tahun 2007. Aku berusaha ngeyel, bahwa waktunya masih lama bagi kami untuk keDelhi. Betapa tidak, Malaysian Airlines berangkat pk 23.15, sedangkan saat itu masih sekitar pk. 14.00, waktu Rajasthan. Aku masih ingin bernarsis-ria di hotel bekas benteng abad ke 15 itu…

Films of Desire   Neemrana Hotel  

gb1. poster                            gb 2 dan 3: salah satu sudut hotel yang cantik

 

Dengan sedikit menggerutu dan bertanya-tanya, aku dan beberapa teman masuk mobil 15 menit kemudian. Satu jm kemudin, memasuki arah jalan Jaipur-Delhi, aku baru mengerti mengapa Sushma ribut dan memaksa kami segera meninggalkan Rajasthan. Jalanan luar biasa macet..cett…Mobil nyaris tak bergerak. Suara klakson, bercampur debu tebal mengepul memanaskan suasana. Rasanya kemacetan di seputaran Sudirman atau bahkan Kemang Jakarta pada sore hari terkalahkan oleh suasana jalan raya Jaipur-Delhi siang itu. Untunglah mobil yang kutumpangi ber-ac. Tak bisa kubayangkan betapa tersiksanya di luar sana. Teka-teki atas kecerewetan Sushma pun terjawab, saat kami sampai di airport sekitar pukul 8 malam, 6 jam perjalanan dari Rajahstan yang seharusnya biasa ditempuh dalam 2,5 jam saja….

Setahun kemudian pada Februari 2008, aku kembali ke India, kali ini di Delhi. Sekali lagi aku dihadapkan pada keruwetan ibukota India itu. Macet? Waah itu sih hal biasa di Delhi. Perilaku manusianya bahkan lebih parah dari orang Indonesia. Seperti meludah sembarangan dimana-mana. Yang ini agak membuatku ketakutan, karena sebelum berangkat ke Delhi sempat kubaca bahwa tingkat tuberkulosis di Delhi termasuk yang paling tinggi. Sehingga ketika pulang ke Indonesia, buru-buru aku periksa paru-paru untuk memastikan aku tidak terinfeksi TB.

Keruwetan di seputar Delhi terjadi di seluruh sudut kota. Baik di main street ataupun di jalan-jalan di gang-gang kecil atau kampung-kampung. Semua ingin bergegas, antara mobil, rickshaw (semacam becak), bajaj, bercampur beberapa binatang yang berkeliaran dengan bebasnya di jalan. Di beberapa ruas jalan utama di Delhi, aku sempat melihat beberapa monyet berkeliaran di jalan. Bergelantungan di pohon tepi jalan, atau menyeberang jalan. Dan aku sangat takjub memperhatikan bahwa di antara kemacetan jalan itu, sang monyet dibiarkan berlenggang dengan aman. Coba kalau ada monyet berkeliaran di tepi jalan Solo di Yogya…ditembak atau ditangkap, mungkin?

    

lihat! ruwet yah.. (again, thx to Indana for the last 2 pics!)

Yang terparah menurutku adalah menyerobot palang kereta api (waah kalau yang ini mah, kayanya sama  deh dengan Indonesia. Atau lebih parah??).

 

      

For these pics, thanks to Indana who captured this moment!

 

Nanti kalau ada waktu dan mood, cerita tentang India akan kulanjutkan. Mungkin tentang gambaran kemiskinannya…kira-kira sama nggak ya dengan Indonesia tercinta ini??