Yudith ini sebenarnya sudah kukenal sejak kecil, kalau tidak salah pertama kali aku melihatnya saat piknik bersama keluarga besar Universitas Atma Jaya Yogyakarta di pantai Pangandaran. Aku mengenal ayah dan ibunya dengan baik, karena mereka sesama kolega di UAJY ini. Saat itu kalau tidak salah, Desember 1995 tahun pertamaku bekerja di universitas ini.
Sudah menjadi hal yang lumrah apabila piknik bersama keluarga besar UAJY, para karyawan dan dosen mengajak keluarga mereka pergi bersama. Demikian pula halnya dengan Yudith yang kala itu mungkin masih balita. Aku tidak ingat dengan pasti. Yang kuingat saat itu ayahnya, pak Maryatmo dosen FE, menggendongnya karena badannya demam dan agak rewel (sedikit-sedikit menangis) — dan yang agak menjengkelkan, tidak mau disentuh… kalau disentuh, tangisannya semakin keras…
Kedua kalinya aku bertemu Yudith dan ayah ibunya di Alfa, kalau tidak keliru sekitar awal tahun 2004. Kesanku waktu itu ia pendiam dengan wajah yang agak murung. Ibunya (bu Elly) dengan riang gembira seperti biasanya, bercerita bahwa Yudith yang kukenal di Pangandaran rewel dan tidak mau disentuh itu “Sudah besar, lho, Bu Dina, sekarang sudah SMA di Van Lith. Ini lagi libur, maunya belanja. Ayo, nak, salaman dulu sama Tante Dina”
………setelah itu, aku melupakannya……..maksudku, momen itu tak lebih dari perjumpaan biasa dengan kolega yang sedang berbelanja bersama keluarganya
Aku bertemu Yudith lagi saat ia menjadi mahasiswa baru dan mengambil kelasku di Pengantar Ilmu Komunikasi. Waktu itu seingatku ia diantar oleh ibunya. “Bu Dina, anakku disini lho! Titip ya, nek nakal dijewer wae”, sebuah pesan yang sangat lumrah dari seorang ibu.
Terus terang aku tidak ingat proses metamrfosanya Yudith yang waktu kecilnya kulihat sangat rewel, manja, suka menangis dan tidak mau disentuh…yang jelas aku melihat seorang gadis remaja yang ramping, nyaris kurus sebenarnya menggandeng tangan ibunya. Proses metamorfosa yang jelas kuingat adalah mahasiswaku yang bernama Desi, lengkapnya Desideria. Nah, si Desi ini putrinya ibu Murwani, dahulu kepala Tata Usaha FISIP (sekarang kepala BAU). Jelas aku mengingatnya, terutama masa kecilnya karena si Desi ini selalu diajak oleh ibunya di dalam setiap kegiatan FISIP. Agak kaget juga aku melihatnya setelah menjadi mahasiswa. Desi esta bonita, y exotica! Beda banget, bo, sama masa kecilnya dulu.
Kembali ke Yudith. Di kelas PIK, aku akhirnya tahu kalau dia anak yang cerdas, berwawasan. Argumennya logis, dan talkative. Hanya saja, yang terakhir ini sering tidak pada tempatnya. Tidak jarang dia ngobrol sendiri dengan teman di sampingnya, atau menoleh ke belakang dan cekikikan. Sekali nyaris kuusir, saat ia sibuk ngobrol dengan temannya, dan di saat yang sama, temannya yang lain sedang menjawab pertayaanku. Ku bilang saat itu, “Saya tidak peduli kamu pintar atau lebih pintar dari temanmu dan saya tidak peduli kamu anaknya siapa, yang jelas saat ini kamu di kelas saya. Saat ini temanmu sedang berbicara. Coba kamu belajar mendengar orang lain. Kalau kamu tetap ngoceh, mending keluar saja”.
…….setelah itu aku melupakannya…….sebuah cerita klasik tentang upaya mengajari mantan anak SMA untuk menghargai orang lain dan mendengarkan orang lain. Tentu saja, Yudith bukan satu-satunya.
Yudith mengambil beberapa mata kuliahku saat ia masih semester 4. Agak berubah, tidak lagi terlalu talkative dan lebih mengutamakan kemampuannya dalam mengolah diskusi. Mata kuliahku yang dipilihnya cukup berat, yakni Analisis Wacana. Menurutku, ia agak memaksakan diri, mengambil mata kuliah dengan bobot yang berat. Belum cukup umur! Tapi ia mampu melaluinya meski dengan beberapa catatan. Kehadirannya cenderung mengundang tawa dan agak berisik, karena bunyi nyaring lonceg-lonceng kecil di tasnya. Menandakan ia ada.
…….setelah itu, aku melupakannya…..urusan di Komisi Penyiaran Propinsi DIY dimana aku saat itu menjadi salah satu anggota cukup banyak menyita perhatianku
Tiba-tiba, di pertengahan 2008, aku di sms oleh Yudith, menanyakan alamat email. Nomer yang tercatat di hpku tidak kukenal dengan kombinasi angka yng aneh. Tapi aku tidak terlalu ambil pusing, dan segera kuberikan alamat emailku. Malamnya, melalui emailnya Yudith bercerita bahwa ia sedang di Taiwan mengambil sebuah program pendek. Aku jadi senang mendengarnya. Sangat senang, bahkan, dan ada kebanggaan, bahwa salah satu mahasiswaku, perempuan, mendapat beasiswa. Ia bertanya, apakah temannya, seorang lesbian boleh berkenalan dan menanyakan beberapa hal kepadaku. Aku mempersilakan saja. Bahkan kuminta Yudith untuk invite YM ku agar kami bisa ngobrol dengan lebih santai. Dan memang sejak itu kami sering ber-YM ria. Setiap mengakhiri pertemuan, aku selalu berkata, “Hasta Luego” dan dibalas dengan “Wan An”
……….setelah itu, aku menjadi lebih dekat secara personal dengan Yudith…… Kami sering berbagi cerita. Yudith sering mengungkapkan kekesalannya tentang salah satu teman perempuannya yang lesbian. Menurutnya, temannya itu terlalu berlebihan sikapnya. Namun ketika kuminta agar ia bersikap tegas, Yudith merasa ragu. Katanya, “Aku nggak enak, Bu. Nanti dikira kasar, dikira aku benci sama dia.” Kataku, “Nak, tolong tinggalkan rasa sungkan Jawamu itu. Ora payu, nduk, di Taiwan sana. Bersikap tegas nggak harus kasar seperti ditambah membanting pintu atau gelas. Kalau kamu mengiyakan setiap permintaannya…ya wajarlah kalau dia nempel terus. Cobalah belajar mengatakan TIDAK”.
Keesokannya aku menemukan offline message dari Yudith, “Bu, aku berkata tidak padanya hari ini”.
Yudith sudah pulang. Tidak berubah banyak. Tetap datang dengan bunyi-bunyian yang berisik. Tetap kurus. Semester ini ia mengambil dua mata kuliahku. Bedanya, sekarang ia sudah punya blog. Kalian mesti baca.
……….aku tidak mungkin melupakannya……….Saat ini ia mengejar-ngejarku untuk program seminar.